Selasa, 28 April 2015

Give Up.

Kalian tahu bagaimana rasanya sebuah kerjinan keramik yang sedang dipanaskan dalam tungku yang menyala dan bersuhu lebih dari 1000' C? Sangat panas dan sakit? Tetapi ia bertahan berusaha untuk tidak pecah, jika ia pecah pasti akan ada rasa kekecewaan yang muncul. Dari dirinya dan juga dari orang lain. Namun disaat ia bertahan menjadi keramik yang sangat cantik, dia akan disayangin dan akan membahagiakan orang lain.

Jika aku bertahan lebih lama lagi apa tetap sama? Apakah akan menjadi seperti keramik itu? Seketika kenyataan ini sangat benar bahwa "Hati ku sangat lelah untuk bertahan tetapi hati ini terlalu cinta untuk melepaskannya". Tak ada lagi cinta paksaan, biarkan sakit jika memang harus sakit. Biarkan hati ini menyimpan rasa cinta dalam diam, merindukannya dalam sepi, dan menjaganya dalam kejauhan. 

Aku tau ini sudah berakhir, aku tau tak ada lagi kata kita, dan sangat tau dimana harus melepas mu. Mungkin  aku belum siap. tapi tak ada pilihan lain. Selain untuk berusaha tegar keadaan ini memaksa ku untuk kuat, Meski sebenarnya aku tak mampu. Bagimana aku harus bisa bilang "Jangan ganggu aku" jika semua hal disini  ku lakukan dengan mu. Untuk kalimat yang terakhir yang sangat sakit untuk diingat dikatakan diceritakan "Buat cinta, gue udah gak cinta lagi sama lo". Bagaimana dengan itu? Tak apa. Jika semuanya sudah ku lakukan dengan ikhlas, dengan perasaan cinta yang tulus tanpa pamrih mendengan kata itu memang sangat sakit lebih dari sakit. Tapi cinta tak bisa dipaksakan.

Salam RvR~

Selasa, 21 April 2015

Selesai.

Sekarang benar-benar berbeda. Menyakitkan disaat dia benar-benar mengatakan kalimat itu. Aku sudah memaafkannya, aku akan mencoba mengikhlaskannya jika dia benar-benar bisa bahagia tanpa ku. Ada pepatah bilang "Kau merindukannya bukan karena dia jauh dari mu tetapi karna disaat kau melakukan apapun kau selalu bersamanya dan selalu berharap keberadaannya berada disamping mu." Entah mengapa sekarang kata-kata itu perpihak kepada ku sekarang.

Merindukannya sangat. Dalam jarak yang jauh saja aku yang harusnya melupakannya entah mengapa aku selalu tau keberadaanya ada dimana. Aku harus bagaimana? Aku belum bisa menerima kenyatannya. Hanya itu yang bisa aku katakannya. Memang kenangan ini tak bisa ku lupakan dan aku lebih memilih untuk menyimpannya sampai nanti aku dewasa.