Sabtu, 06 Agustus 2016

Kerinduang Yang Tak Berujung

Tersadar bahwa semua ini tidak nyata.
Senja mulai tiba, menandakan malam akan datang. Secangkir kopi yang mulai dingin menemani ku bersama suatu pesan yang ku tunggu. Hembusan angin membawa ku berkhayal, betapa indahnya jika kau bersama ku saat ini. Walaupun aku hanya membaca pesan dari mu, entah bagaimana aku merasakan sedang berbicara pada mu saat ini. Mungkin aku sudah gila. Ya beginilah, kerinduan yang tak berujung.

Malam pun sudah tiba, dan hujan mulai turun. Entah mengapa selalu hujan yang membuat semua pikiran ku tertuju kepadanya. Suaranya mulai merasuki pikiran ku, dan aku hanya bisa mendengar suaranya. Percakapan kami melalui telfon genggam mungkin tak akan habisnya jika salah satu dari kami mengalah karna ini sudah pagi. Hanya itu yang bisa aku dan dia lakukan. Bertemu hanya melalui vidcall, hanya bisa mendengar suara satu sama lain, dan hanya bisa mengetahui kabarnya dari jarak 500km. 

Hubungan kami memang rumit, tak serumit soal olimpiade fisika internasional. Jarak 500 km bukan sebuah masalah bagi kami. Jika ingin dimengerti mengapa ini bukan sebuah masalah, aku bisa jelaskan. Memang suatu hubungan berlandaskan cinta, dalam hubungan pasti membutuhkan kasih sayang. Tetapi, jika dipertaruhkan dalam suatu kebutuhan yang harus terpisah, dimana sepasang kekasih mempunya kebutuhan sendiri-sendiri sebelum mereka hidup bersama. Seperti kebutuhan pendidikan? Mengejar cita-cita? Itu mengapa cinta tetap berdiri kokoh walaupun kami harus mengejar cita-cita kami. Menentukaan pilihan dan menerima resiko itu yang harus kamu lakukan dan bertanggung jawab atas apa yang kau tentukan.  Disinilah diuji, bagaimana kau bertahan dengan pilihan mu.
Memang sulit dilalui, siapa tau diakhir cerita nanti akan bahagia ataupun sebaliknya?
Dan kau? Masih mau menunggu waktu dimana kau akan bertemu dengan ku?

Rvr~