Senin, 28 Agustus 2017

Sebulan Tiga Hari

kembali ku duduk di lorong sepi, sendiri.
hembusan angin yang menggerakkan ranting-ranting pohon menjadi irama yang indah. Aku menikmatinya.

huhh, aku benci sepi
aku benci keheningan ini, dimana otak ku memacu akan datangnya pikiran tentang mu. Aku menyukai mu, bukan begitu? hahh semua orang sudah tau akan hal itu. Bagaimana dengan mu? Bagaimana dengan janji? Perlakuan manis yang membuat diriku diambang harapan lebih?

Kembali ku mengingat kejadian suatu malam, dimana aku lelah akan suatu pagelaran dan kau datang menemani makan malam. Itu hari yang spesial untukmu, ingin ku beri hal yang spesial tapi tiba-tiba tercipta luka dalam hati yang enggan memberikan hal spesial untuk malam itu. Aku sangat ingat luka itu. Ketika rasa yang sudah tercipta dan aku sudah melangkah jauh, dan kenyataannya kau terdiam, bingung antara melangkah bersama ku atau pergi meninggalkan. Itu sungguh sakit

Benar apa kata mereka, wanita sangat ahli untuk mengingat rasa sakit walau ttelah memaafkan. Ahh lupakan lah.

keesokammua, dimana aku benar-benar pergi, dimana aku benar-benar memilih untuk pergi. Kau datang menarik ku untuk tetap tnggal, ahh kau hebat sekali dalam menerbangkan dan menjatuhkan hati.

dan sekarang, kemari, sebulan tiga hari yang lalu kau buat aku menjadi milikmu dengan sangat sederhana, mennjadikan aku Ratu dalam singgah sana mu. Aku bahagia namun takut. Takut dengan ulasan yang kau berikan sebelum memulai ikatan ini, aku menjadi semakin hati-hati, benar takut untuk memulai, dan takut untuk kau pergi dari hidupku.

21 Agustus 2017
RvR