Rabu, 14 Maret 2018

More Than Words

Ku hanya memerhatikan langkah ku, tanpa melihat orang yang berjalan disekitar ku. Aku hanya menyentuh pilar-pilar penyangga lorong rumah sakit ini. Seketika hening dalam fikiran ku. Aku hancur malam itu. 
Ada suatu kebahagiaan kecil ku, dimana ada seseorang yang ku cinta sedang duduk menunggu ku di bangku taman. Setidaknya aku tidak bisa memberitahu keadaan ku saat ini padanya, ini akan menghancurkan hari ku bersamanya lagi. Ternyata itu hanya ekspetasi, malam itu malam berat untukku. 

Dalam fikiran ku.
Ada suatu cahaya yang menunggu, lagi-lagi hanya ada satu pintu. Kali ini tidak ada 2 pilihan celah dimana aku harus kembali atau harus pergi. Tersadar dari itu semua, lupakan keburukan orang lain dan kebaikan diriku kepada orang lain, ingat tuhan dan kematian. Ketika pepatah itu langsung muncul dalam benakku. Dalam satu malam aku memaafkan dirinya, tanpa menghiraukan rasa sakit. Aku tau aku harus pergi dari dirinya nanti, setidaknya aku menginginkan satu kenangan yang akan aku lupakan nantinya. Senyumnya memang menyembuhkan ku, akan tetapi hati berteriak kesakitan dan berbicara lagi melalui air mata. Tak apa hanya itu yang bisa ku tenangkan untuk hati.

Pagi ini, pagi yang berat. Sangat sulit untuk bersemangat menyambut matahari. Ku lihat mata ku dalam kaca, kali ini aku tau kau sedang tidak apa-apa za. Hidup ku berat karna suatu alasan. Aku bertahan mungkin beralasankan yang sia-sia. Kelas ku pagi ini untungnya hanya 26 anak tangga yang lumayan berat, untuk ku bernafas. Dalam lamunan ku tentangnya, tiaba-tiba ia muncul di bayangan figura kaca, entah aku langsung mengetahuinya. Ingin kali ini aku mengabaikannya, dan aku melakukannya. Sakit ini sungguh merobekku dalam senyuman.

Dan malam ini, akhirnya aku tidak bisa menahan diri. Akhirnya malam ini aku berbicara tentang apa yang sudah menjadi diagnosis kemarin malam itu, karna memang hati ini tidak bisa memendam terlalu lama.

Ku ingin melihat mu setiap hari, senyum itu yang ku ingin lihat. Entah didunia yang sama atau didunia yang berbeda. Jika kau ingin percaya, aku masih menyimpan rasa yang selalu bertambah disetiap harinya walau kau menyakiti ku.

Betina
2018

Kamis, 01 Maret 2018

Alasan klasik

Kamu...
Mengapa mimpi selalu mendatang kan kamu?
Mengapa pikiran ku terlalu memanjakan dirimu berada dalam otakku?
Mengapa hati ku membuatkan rumah singgah yang sangat istimewa hanya untuk dirimu?
Ingin sekali memaki diriku, karna kau sama sekali tak bisa lari dari hati dan pikiran ku. Aku yang seharusnya memikirkan diriku sendiri, masih saja sanggup untuk merindukan dirimu, memimpikan kamu, segala sesuatu tentang kamu masih ku bayangkan dengan rasa sakit yang masih melekat dalam tubuh ku. 
Aku benci untuk menyatakan hal ini, sesakitnya diriku, sesekaratnya diriku, masih saja kamu yang berani-berani mengusik tidur nyenyak ku. Mengganggu hati kecil ku, keretakan hati ini mengganggu ku sungguh. Ketika semua berusaha untuk mencegah diri ku untuk memikirkan mu, masih saja kau berani-beraninya masuk dalam pikiran ku bersama wanita itu. Ah wanita, aku benci membahas itu. 

Kali ini sudahlah, aku menyerah atas diri mu kali ini. Pergilah jika itu mau mu, karna aku tau sampai saat ini pun kau masih anggap aku sama, Sekali lagi tentang perjuangan, dengan alasan klasik yang aku buat, menyerahlah hati.

Vatkhi 2018

Senin, 26 Februari 2018

Sudah

Akhirnya ku kembali
Dengan pergerakan lemah yang ku rasakan
Ku lihat banyak sekali orang-orang yang memeluk tangan ku, memeluk diriku, aku kembali.
Terharu sekali mendengar begitu khawatir dimana kalian melihat diriku tertidur kaku tak berdaya, begini rasanya, sebegini menyedihkan aku.
Aku yakin bahagia dirimu disana, mendengar diriku kembali, bukan begitu?
Tapi apakah aku disini bisa menggenggam tangan mu?
Melihat wajah mu, bukan dari sebuah layar kaca?
Ahh ini khayalan
tidak akan terjadi. Sudah.
Terimakasih

Senin, 19 Februari 2018

Pergi dengan Indah

Akan ku ceritakan sat keresahan hati yang mungkin akan diabaikan.

Senja biru yang sendu, ku duduk  di lorong putih sendiri. Hanya berteman dengan perawat dan dokter jaga, yang paling spesial dokter berkacamata yang mungkin resah dengan keadaan ku saat ini.

Aroma antibiotik, anti septik, segala sesuatu yang menjauhkan ku dari bakteri sudah menjadi aroma kehidupan ku. Tabung oksigen seperti ransel backpaker yang harus ku bawa kemana-mana, ahh aku punya aksesoris yang membuat tampilan ku menjadi indah. Terdapat jarum yang menancap di tangan kiri ku beserta cairannya di tiang penyangga yang selalu ku bawa keana-mana, dan aku selalu menggenggamnya.

Aku punya kehidupan yang luar biasa sebelum dunia ku berganti di dalam gedung putih ini. Kau tau? Tuhan menciptakan alam sebagaiaman indahnya tak terkira. Aku sangat suka berkeliling untuk menikmati, merawat, dan sebagaimana traveling. Aku mencintai budaya, budaya Indonesia yang sangat terkenal ialah budaya Jawa. Kalian tau sendiri bagaimana aku mencintai salah satu bidang musik bernama Karawitan, itu sangat klasik. Aku bisa melepas rasa sakit ku hanya dengan bermain atau mendengar hasil suara dari alat musik itu. Walaupun terkadang cinta menjadi salah satu obat rasa sakit yang mujarab. 

Aku juga punya kisah cinta yang sangat sederhana, tetapi aku menyukainya. Itu dulu sebelum aku masuk dalam gedung putih ini. Sekitar 7 bulan 4 hari yang lalu, disaat ulang tahunnya. Aku terbangun dengan suasana hati yang sangat buruk, tapi aku tau bahwa sedang berusaha menyakinkan dia  untuk tidak ragu kepada ku. Fikir ku aku datang hanya datang, mendukungnya dalam pementasan hari itu. Aku tau bahwa aku sangat bertahan atas keacuhannya, dia dingin, dan terlihat hangat.  Ku tidak melihatnya pagi itu, mungin dia sibuk. Aku berusaha jangan berharap apapun tentang dia hari ini.

Aku hanya bisa memandangnya tanpa ingin menyentuh saat itu. Sebagaimana hati sangat ingin lari dan bilang "Selamat sayang, kamu hebat tadi." dan memberi kotak kecil yang sudah ku bungkus rapi, tapi aku bingung apakah aku harus memberinya saat ini? Tapi apa aku malah melawannya dengan kritik ku di evaluasi akhir pementasan itu. Ahh.. mengapa aku seperti ini.

Setelah itu entah aku melupakan dia sejenak akan pementasan ku dimalam itu. Kau tau, dia tidak menyukai hobi ku yang satu ini, entah dia juga tidak mencoba menyukai itu. Aku menahan rasa sakit hati malam itu entah aku tau yang akan terjadi nanti. Setelah bagian ku selesai, aku keluar dari panggung mencari sosok itu. Apakah dia melihat ku? Ternyata tidak, dia tidak sesuka itu ada ku ternyata. Aku mencoba menolak rasa sakit yang hampir menusuk hati. Aku lupakan ini. Tiba dia menghubungi ku, menanyakan aku berada dimana. Kita bertemu, menanyakan hal kecil, dan dia pasti sibuk dengan ponselnya. Setelah itu aku kembali bersamanya dan duduk di lorong kampus, malam itu malam burukku, sampai sesak di dada lebih sakit dari sakit yang aku biasa rasakan.

Itulah rasa sakit pertama kali karna dirimu sebelum aku menjadi milikkmu. Aku bahagia setelah itu kau menjadi milikku, mengerti kelemahan ku. Walaupun aku benci telah mengatakan semua kelemahan ku.

Dan saat ini aku masih sendiri yang selalu berharap kau disini, menjadi sandaran kepala ku yang sulit untuk tetap tegak. Wajah dan bibir yang harus ku poles dengan make up agar terus terlihat baik-baik saja didepan kamera, untuk ditunjukkan kepada mu. Aku bertahan dengan terus mengingat senyummu, ah klise sekali bukan. Tapi kau terus menginginkan ku untuk dirimu menjadi semangat ku. Kau benar sangat benar. Aku bertahan dengan kondisi yang tidak tertahankan aku bisa mengingat dirimu. Aku memejamkan mata mu, sejenak ku bayangkan bagaimana wajah mu. Aku takut lupa, aku takut melupakan dirimu.

Sebentar lagi dia datang. Dia yang seharusnya menjadi penyelamat ku. Kamu? Bagaimana kabar hati yang sudah lama ku tinggalkan? Aku izin. Berjuang lagi, berjuang untuk kesekian kali. Walaupun nanti tidak berhasil, aku akan pergi ke tempat yang jauh lebih baik. Di sisi Mu.

Rindu Senja
R.Vatkhi.R
Betina Tangguh yang selalu mengeluh
RS Cipto Mangun Kusumo 2018