Senin, 19 Februari 2018

Pergi dengan Indah

Akan ku ceritakan sat keresahan hati yang mungkin akan diabaikan.

Senja biru yang sendu, ku duduk  di lorong putih sendiri. Hanya berteman dengan perawat dan dokter jaga, yang paling spesial dokter berkacamata yang mungkin resah dengan keadaan ku saat ini.

Aroma antibiotik, anti septik, segala sesuatu yang menjauhkan ku dari bakteri sudah menjadi aroma kehidupan ku. Tabung oksigen seperti ransel backpaker yang harus ku bawa kemana-mana, ahh aku punya aksesoris yang membuat tampilan ku menjadi indah. Terdapat jarum yang menancap di tangan kiri ku beserta cairannya di tiang penyangga yang selalu ku bawa keana-mana, dan aku selalu menggenggamnya.

Aku punya kehidupan yang luar biasa sebelum dunia ku berganti di dalam gedung putih ini. Kau tau? Tuhan menciptakan alam sebagaiaman indahnya tak terkira. Aku sangat suka berkeliling untuk menikmati, merawat, dan sebagaimana traveling. Aku mencintai budaya, budaya Indonesia yang sangat terkenal ialah budaya Jawa. Kalian tau sendiri bagaimana aku mencintai salah satu bidang musik bernama Karawitan, itu sangat klasik. Aku bisa melepas rasa sakit ku hanya dengan bermain atau mendengar hasil suara dari alat musik itu. Walaupun terkadang cinta menjadi salah satu obat rasa sakit yang mujarab. 

Aku juga punya kisah cinta yang sangat sederhana, tetapi aku menyukainya. Itu dulu sebelum aku masuk dalam gedung putih ini. Sekitar 7 bulan 4 hari yang lalu, disaat ulang tahunnya. Aku terbangun dengan suasana hati yang sangat buruk, tapi aku tau bahwa sedang berusaha menyakinkan dia  untuk tidak ragu kepada ku. Fikir ku aku datang hanya datang, mendukungnya dalam pementasan hari itu. Aku tau bahwa aku sangat bertahan atas keacuhannya, dia dingin, dan terlihat hangat.  Ku tidak melihatnya pagi itu, mungin dia sibuk. Aku berusaha jangan berharap apapun tentang dia hari ini.

Aku hanya bisa memandangnya tanpa ingin menyentuh saat itu. Sebagaimana hati sangat ingin lari dan bilang "Selamat sayang, kamu hebat tadi." dan memberi kotak kecil yang sudah ku bungkus rapi, tapi aku bingung apakah aku harus memberinya saat ini? Tapi apa aku malah melawannya dengan kritik ku di evaluasi akhir pementasan itu. Ahh.. mengapa aku seperti ini.

Setelah itu entah aku melupakan dia sejenak akan pementasan ku dimalam itu. Kau tau, dia tidak menyukai hobi ku yang satu ini, entah dia juga tidak mencoba menyukai itu. Aku menahan rasa sakit hati malam itu entah aku tau yang akan terjadi nanti. Setelah bagian ku selesai, aku keluar dari panggung mencari sosok itu. Apakah dia melihat ku? Ternyata tidak, dia tidak sesuka itu ada ku ternyata. Aku mencoba menolak rasa sakit yang hampir menusuk hati. Aku lupakan ini. Tiba dia menghubungi ku, menanyakan aku berada dimana. Kita bertemu, menanyakan hal kecil, dan dia pasti sibuk dengan ponselnya. Setelah itu aku kembali bersamanya dan duduk di lorong kampus, malam itu malam burukku, sampai sesak di dada lebih sakit dari sakit yang aku biasa rasakan.

Itulah rasa sakit pertama kali karna dirimu sebelum aku menjadi milikkmu. Aku bahagia setelah itu kau menjadi milikku, mengerti kelemahan ku. Walaupun aku benci telah mengatakan semua kelemahan ku.

Dan saat ini aku masih sendiri yang selalu berharap kau disini, menjadi sandaran kepala ku yang sulit untuk tetap tegak. Wajah dan bibir yang harus ku poles dengan make up agar terus terlihat baik-baik saja didepan kamera, untuk ditunjukkan kepada mu. Aku bertahan dengan terus mengingat senyummu, ah klise sekali bukan. Tapi kau terus menginginkan ku untuk dirimu menjadi semangat ku. Kau benar sangat benar. Aku bertahan dengan kondisi yang tidak tertahankan aku bisa mengingat dirimu. Aku memejamkan mata mu, sejenak ku bayangkan bagaimana wajah mu. Aku takut lupa, aku takut melupakan dirimu.

Sebentar lagi dia datang. Dia yang seharusnya menjadi penyelamat ku. Kamu? Bagaimana kabar hati yang sudah lama ku tinggalkan? Aku izin. Berjuang lagi, berjuang untuk kesekian kali. Walaupun nanti tidak berhasil, aku akan pergi ke tempat yang jauh lebih baik. Di sisi Mu.

Rindu Senja
R.Vatkhi.R
Betina Tangguh yang selalu mengeluh
RS Cipto Mangun Kusumo 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar