Kini musim hujan kembali datang mengguyur kota ku, tak lagi kopi dalam senja tetapi kopi penghangat dalam hujan. Kali ini Rindu mengajakku dalam segelas teh hangat, dalam kedai nasi goreng yang daku dengannya sengaja duduk dekat televisi yang memutar pertandingan sepakbola lokal. Sempat diriku merasakan seperti diduakan oleh pertandingan tersebut, tatapannya memang tak lepas untuk menatap ku.Akan kau buat menikmati malah yang tidak seperti biasanya, menurut ku ini benar. Cukup satu kejadian, iya satu peristiwa.
Malam itu hujan, sangat deras, dan kau sangat kedinginan. Ku mengusap tangan mu. Kau menggenggam tangan ku. Membiarkan pundak mu menjadi sandaran ku karna terlalu lama menunggu hujan reda. Memeluk ku karna ketakutan ku akan kilat dan petir yang menyambar. Malam itu sangat sederhana tanpa kopi dan tanpa lampu lampu redup yang menenangkan. Sederhana dengan cinta pada malam.
Malam itu hujan, sangat deras, dan kau sangat kedinginan. Ku mengusap tangan mu. Kau menggenggam tangan ku. Membiarkan pundak mu menjadi sandaran ku karna terlalu lama menunggu hujan reda. Memeluk ku karna ketakutan ku akan kilat dan petir yang menyambar. Malam itu sangat sederhana tanpa kopi dan tanpa lampu lampu redup yang menenangkan. Sederhana dengan cinta pada malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar