Minggu, 06 Oktober 2019

Hati yang menetap pada sunyi

Ingin terus menetap pada sunyi yang memang jika ia benar-benar suatu nada. Terdapat jiwa yang terseret dalam lubang hitam pada mata mu, yang kembali menjadi udara melalu hembusan nafasmu. Sampai raga berteriak iri pada air hujan yang jatuh membasahi pundamu. Sebegitukah buruk rasa mencintai? Setidak patuhnya hati pada diri disaat tertarik? Kadang aku benci bagaimana hati dan diri tak selaras lagi. 

Jika nanti pertemuan yang ketiga, hati ini masih terjatuh untukmu? Aku harus apa? Aku harus bagaimana? Haruskah hati lagi-lagi meminta izin untuk mengetuk pintu hati mu lagi? Mengapa ku sebutkan lagi? Karna hati ini suka seenaknya sendiri, menjatuhkan hati hanya untuk mu. Dan itu terus menerus. 

Bandung, Bandung lagi, Entah mengapa ku mendengar Bandung hanya namamu yang terlintas. Ah sangat berlebihan sekali bukan diriku? Ada beberapa saat untuk diri membiarkan mu lari. Kemudian jantung berdetak lebih kencang dari biasanya, dan tubuh menjadi lebih ringan dimana nada dering ponsel ku berasal dari pesan dirimu. 

Rangkaian kalimat ini, menyatakan bagaimana diriku kembali jatuh cinta pada mu? Jika ku harus jujur iya, tapi tidak untuk saat ini Aku akan jatuh hati kembali jika kau mengizinkannya nanti. Kadang ada hak-hak yang muncul dari perundang-undangan mencelakakan hati. Untuk tidak terlalu saki atau memang itu hak untuk menyakiti diri. maka dari itu, Sebelum hak dan perundangan itu mengenai ku, dan aku ditindak pidana karna mencintai tanpa izin. Lebih baik ku mundur, biarkan hati itu menangis berguling-guling melihat hati mu bahagia nantinya. Ini hanya soal hatii, dan soal rasa. Nantinya setahun atau dua tahun nanti akan sebatas cerita. 
"Iya, dulu aku sungguh sangat berani untuk mencintai hatinya."
Itu yang akan dikatakan.

Untuk kamu, Aku akan berhenti tenang saja. Entah nanti, atau esok. Khayalan seorang penulis bisa mengkekalnya orang yang dicintainya. Dan aku berterimakasih, tidak menyesal pula. Untuk hati ku yang telah mencintaimu.

Nava
Dimalam kau menghubungiku lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar